Cerita Pengalaman Saya Sebagai Petani Burung Walet

Halo sobat petani walet! Saya adalah Hana Li, seorang ibu rumah tangga yang kini akhirnya terjun menjadi seorang petani burung walet. Awal mula saya tidak pernah terpikir akan menjadi penggiat dalam bisnis ini, hingga seorang Habib dari pulau Jawa bertamu mampir ke toko furnitur saya. Pada waktu itu beliau ingin mencari sebuah kursi set berbahan kayu jati, dilanjut dengan beberapa obrolan formal hingga berceritalah beliau tentang potensi sarang burung walet. Menurut Habib di deareh saya sangat cocok untuk dijadikan gedung atau rumah walet.

Ketika saya mendengarkan cerita Habib tersebut, dalam pikiran saya hanya biasa saja, bahkan tidak melihat potensinya seperti yang beliau sampaikan. Namun sebelum beliau pergi dari toko saya, beliau mengatakan bahwa saya harus mencoba usaha walet. Dengan kata lain membuat sebuah gedung walet dan disarankan di atas toko furnitur saya ini. Kebetulan toko saya ini mempunyai 2 lantai, jadi cukup bagus untuk jangkauan oleh burung walet, menurut Habib.

Sebulan setelah ngobrol sama Habib, hati saya dan suami terbuka untuk mencoba membuat gedung burung walet, walaupun dalam hati kami hanya coba-coba saja. Pembangunan gedung walet saya di tahun 2004 telah terjadi dan selesai di bangun kurang lebih dalam waktu 2 bulan saja. Disinilah awal mula sarang burung walet masuk dalam kehidupan saya.

Apakah Saya sudah menjadi Petani Burung Walet?

Secara umum orang yang memiliki rumah atau gedung walet biasanya bisa dibilang sebagai petani burung walet. Prilaku saya saat itu pada tahun 2004, saya tidak pernah melakukan perawatan, atau pemeliharaan terhadap gedung walet yang saya miliki. Hal ini menunjukkan bahwa saya bukanlah seperti petani pada umumnya. Memang dari awal pembangunan niat saya hanya iseng dan coba-coba saja.

Setahun setelah itu saya mulai ada sedikit perhatian kepada gedung walet yang saya miliki. Ketika pertama kali saya memasuki gedung tersebut, saya terkejut ada banyak sekali burung walet dan sarangnya yang menempel di papan. Saya pun saat itu mulai respek terhadap apa yang pernah Habib katakan pada saya.

Saat itu mulai mencari petani walet disekitar daerah saya dengan maksud hati ingin bertanya-tanya soal panen walet dan bagaimana menjualnya. Sayangnya ternyata di daerah saya belum ada orang yang berkecimpung sebagai petani burung walet. Pada waktu itu tidak ada proses panen dikarenan belum tahu bagaimana caranya.

2 minggu kemudian datanglah seorang pengepul sarang walet yang berkunjung ketempat saya. Si pengepul melakukan pertanyaan apakah gedung yang saya miliki sudah ada sarangnya, langsung saya jawab sudah. Disitu banyak obrolan hingga saya di ajarkan bagaimana cara panen, perawatan, dan pemeliharaan gedungnya.

Seminggu setelah itu, pengepul itu kembali datang untuk membeli sarang walet yang sudah saya panen sesuai metode yang dia ajarkan. Hasil dari panen tersebut sebesar 6 kilo sejak berdirinya gedung walet Januari 2004 dan pertama panen di April 2005 sekitar 14 bulan. Waktu itu harga perkilo dikisaran 4jt rupiah, itupun saya belum tahu tentang kualitas sarang walet, jadi hanya ditentukan oleh pengepul.

Melakukan Perawatan dan Pemeliharaan Gedung Walet

Sesuai cara yang di anjurkan oleh pengepul, saya mulai melakukan pemeliharaan gedung walet seperti membuat kolam air, menambah twitter pada sirip papan dan melakukan penyemprotan parfum. Sejauh ini proses pemeliharaan cukup baik menurut saya, karena sarang dan burung walet bertambah banyak di dalam gedung saya.

Pembuatan kolam air pada lantai paling atas atau bagian dak yang dijadikan sebagai penampungan air. Disitu juga saya memberikan pipa air untuk menjadi pancuran air yang berfungsi mengisi air kolam ketika terjadi kekeringan. Berikutnya dalam kolam tersebut juga saya isi dengan kotoran burung walet yang berfungsi untuk memperluas aroma khas sarangnya.

Bagian suara pemikat, saya menggunakan 3 varian suara seperti, suara panggil, tarik dan inap. Dengan sebuah mesin pemutar suara ditambah flash disk yang sudah berisi audio dari ketiga varian suara tersebut. Setelah itu disambungkan atau dialurkan kedalam gedung walet melalui kabel yang di pasang di papan sirip. Kemudian disambungkan lagi ke twitter yang diletakkan setiap dari sudut papan sirip. Untuk audio, saya cari di youtube dan kemudian di download dan dimasukkan ke flash disk yang sesuai variannya.

Selanjutnya untuk penyemprotan saya menggunakan sprayer yang berkapasitas tengki sebanyak 15 liter. Untuk parfumnya saya menggunakan bahan pabrikan seperti merek Walet Mas. Pertama kali saya mengira bahwa parfum tersebut adalah wewangian seperti bau bunga atau pengharum, namun ternyata itu adalah bau pesing seperti kotoran burung. Disini saya menyadari kalau burung walet suka aroma seperti abu amis dan pekat.

Baca Juga: Cara Memelihara Burung Walet Gedung atau Rumah

Siklus Saya Panen Sarang Walet

Setelah dari penagalaman pertama panen, proses panen kedua sudah tidak canggung lagi dan sedikit lebih rapi dalam pengambilan. Peralatan yang saya gunakan biasanya berupa centong semen yang tipis, kemudian sprayer kecil ukuran kapasitas 1 liter. Centong semen digunakan untuk menusuk papan sirip yang tertempel oleh sarang walet. Kemudian sprayer untuk menyemprot bagian antara sarang dan papan sirip, ini berfungsi untuk melunakkan sarang yang sangat kering agar mudah ditusukdan diambil.

Perlengkapan saat panen sarang walet biasanya saya gunakan masker, baju dan celana panjang, kain atau plastik penutup kepala, senter kepala, ember untuk hasil panen. Dalam gedung walet sangat minim cahaya dan 97% gelap jadi sangat dianjurkan untuk membawa alat penerang seperti senter.

Saya melakukan panen setiap 6 minggu sekali, selama 2 tahun. Kemudian setelah itu mulai merubah siklus dan jadwal panen yaitu panen setiap 2 minggu sekali. Ini saya lakukan bukan tanpa alasan atau karena ingin cepat menjual sarang walet. Dari masa percobaan dan berdasarkan pengalaman, saya akan berikan contoh hitungannya. Dalam 6 minggu sekali saya panen itu menghasilkan sekitar 9 kilo sarang walet. Lalu hasil dari panen setiap 2 minggu sekali adalah 4 kilo. Disini sudah kebayangkan perbedaannya secara kalkulasi, jelas 2 minggu lebih unggul dari segi income. Yang anehnya jika di tumpuk selama 6 minggu tanpa dilakukan pemanenan setiap 2 minggu sekali, sarang walet cuma menghasilkan 9 kilo.

Mencari pencerahan tentang siklus sarang walet

Setelah saya bertemu dan berbicara dengan beberapa petani dan pencuci sarang walet, saya mendapatkan jawaban dari kebingungan saya. Jadi kenapa panen setiap 2 minggu sekali lebih banyak ketimbang ditumpuk, kemudian dipanen sekaligus ketika mencapai 6 minggu, ternyata karena burung walet dewasa yang sudah membuat sarang dengan bentuk sempurna tidak akan membuatnya lagi di bagian lain. Kemudian jika di ambil saat belum begitu sempurna bentuknya, biasa disebut sarang rampasan, ini akan membuat burung walet dewasa tetap melakukan pembuatan sarang tersebut.

Saya melakukan metode panen 2 minggu sekali ini hingga di tahun 2015. Disini mulai kelihatan efek negatifnya dari panen setiap 2 minggu atau panen rampasan tersebut. Sarang walet mulai berkurang, burung walet banyak yang mati di dalam gedung dan burung dewasa juga mulai berkurang. Penurunan hasil panen sebesar 50%, jadi yang biasa dapat 4 kilogram, mulai tahun 2015 cuma sekitar 2 kilogram.

Perjalanan dari tahun 2015 ke tahun 2019

Setelah berjalan selama beberapa tahun hingga tiba di tahun 2019, siklus cara panen rampasan tersebut membawa negatif kedalam cara pengelolaan dan ternak burung walet. Panen rampasan ternyata mengakibatkan burung walet menjadi stres dan tidak dapat berkembang biak bahkan bertelurpun tidak sempat. Siklus bertelurnya dibutuhkan waktu sekitar 45 – 60 hari, kemudian menetas dan menunggu lagi sekitar 21 hari agar anak burung dapat bisa terbang. Jadi normalnya panen sarang walet adalah di jangka 3-4 bulan sekali itu adalah pilihan yang baik.

Panen rampasan membuat hasil panen turun lagi dari 2 kilo per 2 minggu menjadi 1 kilo gram per 2 minggunya. Dalam kondisi ini saya merubah siklus panen menjadi 4 – 5 minggu untuk sekali panen. Namun hingga 2023 ini tidak banyak perubahan yang didapat, inilah yang harus diwaspadai untuk menjaga populasi dan hasil panen agar stabil, yaitu hindari panen rampasan. Berdasarkan pengalaman saya ini semoga bisa jadi dapat ilmu dan pengalaman agar tidak dilakukan oleh petani burung walet lainnya.

Baca Juga: Ternak Burung Walet dan Proses Penetasan Telurnya

Memulai belajar jadi pengepul sarang walet

Saya memulai belajar untuk menjadi pelaku bisnis sarang walet secara serius. Dengan modal informasi dari teman-teman petani, saya mulai membeli hasil panen kepada petani yang sudah saya kenal. Saya melakukan pembelian dengan cara membeli semua hasil panen tersebut dan menjadi berlangganan sebagai pembeli tunggal.

Belajar dari cara menilai komposisi, harga satuan dan harga gabungan. Komposisi bisa ditentukan dari berapa total sarang walet dibagi menjadi 3 bagian seperti, mangkok, sudut, dan patahan. Contoh jika total sarang walet adalah 20 kilogram, dibagi menjadi 3 bagian dengan nilai, mangkok 10 kilogram, sudut 5 kilogram dan patahan 5 kilogram. Pembagian tersebut dapat diambil nilai komposisinya menjadi 50-25-25 yang artinya mangkok dengan komposisi 50%, sudut 25% dan patahan 25% dari total sarang walet.

Selanjutnya yang sangat penting diperhatikan juga adalah kadar dalam sarang walet. Untuk menjadi pengepul perlu kejelian dalam menakar jumlah kadar dalam sarang walet. Kadar dimaksud adalah kadar air atau kandungan air. Pada normalnya setiap keping sarang walet akan memilki kadar air sekitar 2-3% setelah dipanen. Lembabnya atau basahnya sarang itu karena proses dari pemanenan yang disemprot dengan air ketika mau di panen.

Namun tidak sedikit juga para petani yang sengaja menambahkan atau menyemprotkan air ke sarang walet yang telah di panen. Cara itu dilakukan untuk menambah berat timbangan sarang walet. Hal ini yang sangat berbahaya bagi orang awam yang menjadi sebagai pembeli. Karena saat di dalam perjalanan sarang walet yang dibawa akan mulai menyusut atau mengering yang otomatis berat timbangan akan berkurang. Itulah kenapa lebih baik membeli sarang walet kering ketimbang basah, karena bisa menimbulkan kerugian besar.

Penutup dari saya sebagai petani sekaligus pengepul sarang burung walet

Dikesempatan ini saya akan merangkum kesimpulan dari cerita dan perjalanan saya sebagai petani burung walet hingga jadi pengepul. Mari kita ambil bagian yang bermanfaatnya dan apa saja yang perlu diperhatikan dan dipelajari untuk kebaikan dalam pengelolaan atau bisnis sarang walet.

Pertama jika ingin mencoba peruntungan untuk membuat gedung atau rumah walet, perhatikan lokasi dan jalur dari burung walet. Kemudian usahakan membangun disekitaran sungai atau persawahan, karena tempat ini disukai oleh para burung walet.

Kedua jika sudah memiliki gedung dan sudah berisi sarang walet, hindari melakukan panen rampasan. Berdasarkan pengalaman yang saya ceritakan ini sangat merugikan kita dalam jangka panjangnya. Burung walet menjadi stres dan enggan bersarang, kemudian tidak ada generasi dikarenakan tidak ada siklus kembang biak atau bertelur. Itulah akbiat panen rampasan yang dapat saya gambarkan agar tidak dilakukan untuk menghidari gedung walet menjadi semakin berkurang hasil panennya.

Yang perlu diketahui sebelum jadi pengepul sarang walet

Ketiga jika ingin menjadi pengepul sarang walet, perlu diperhatikan dan dipelajari seperti yang saya rincikan di bawah ini:

  1. Belajar untuk cara memfilter sarang walet
  2. Belajar untuk cara seleksi grade
  3. Belajar untuk cara menakar atau menentukan jumlah kadar air dalam kepingan sarang walet
  4. Memiliki banyak koneksi dan informasi tentang harga beli dan harga jual
  5. Mencari petani yang bisa dijadikan langganan untuk beli hasil panennya
  6. Mencari pembeli atau menjual ke pencucian yang dapat membeli di harga tertinggi
  7. Jangan sekali-kali menambahkan air kedalam sarang walet yang siap dijual dengan maksud agar menambah nilai timbangan. Ini akan menyebabkan pembeli akan menandai kamu sebagai penjual yang curang
  8. Dalam menyimpan stok sarang walet yang ingin dijual, usahakan di simpan dalam tempat atau box yang kedap udara dan tidak terkontaminasi kotoran atau udara kotor

Baca Juga: Bisnis Sarang Walet: Tips Menjual di Harga yang Tepat

Nah mungkin itu saja dari pengalaman saya yang dapat dibagikan pada teman-teman. Semua usaha intinya pada kemauan atau niat yang sungguh-sungguh akan membawakan hasil yang baik. Sekian dari saya terima kasih sudah membaca artikel ini, semoga bermanfaat dan semoga berhasil.

2 thoughts on “Cerita Pengalaman Saya Sebagai Petani Burung Walet”

  1. Saya pemilik gedung walet d Jawa Timur. RBW d bangun th 1993,perkembangan d jawa sangat lambat krn polusi tinggi&populasi burung berkurang. Tp ALHAMDULILLAH RBW saya tetap berkembang walopun cuma 10%/th. Saya sangat bersyukur krn banyak RBW lain yg mengalami penurunan bahkan ada yg habis sama sekali.
    Dari dulu pola panen saya 2x/th,dan itu sampe skrg. Saya lakukan krn d sktr saya banyak petani yg panen buang telur. Bahkan ada tetangga saya yg panen cuma 1x/th, tp perkembangan RBWnya luar biasa

    Reply

Leave a Comment